Minggu, 13 Februari 2011

Macam-Macam Vitamin


A.KEKURANGAN VITAMIN A
1. Pengertian
Vitamin A merupakan suatu kondisi untuk menjaga kesehatan mata yang mana harus dilakukan sejak usia dini dengan mengkonsumsi buah-buahan, sayuran hijau, lauk hewani dan minyak ikan.

2. Gejala Klinis dan Tanda-tanda


Gejala pada mata disebut sebagai “Xeroftalmia” dan menurut WHO (1992) dibuat kriteria kelainan sebagai berikut :

§        Buta senja (Nigh Blindess, XN) yang diketahui bila anak sering jatuh atau salah        menangkap benda yang diberikan saat senja
§        Kekeringan pada konjungtiva (konjungtival xerosis, XIA), merupakan proses perubahan bulbus, yaitu kering, tebal, keriput dan terjadi penimbunan pigmen
§        Bercak bifot (Bifot Spot, XIB), berupa bercak warna putih berbuih dan terdiri dari penimbunan sel epitel
§        Kekeringan pada kornea (corneal ulcuration / keretomalacia) < 1/3 permukaan (x 3A), akibat keringnya epitel sehingga kejernihan kornea berkurang
§        Ulkus pada kornea (Cornea ulcuration / kerotomalacia) >1/3 permukaan (x 3B)
§        Xeroftalmia Fundus (XF)]

Defisiensi Vitamin A dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat bila suatu daerah menenuhi kriteria sebagai berikut :
§         X IB 0,5 % dari populasi yang memenuhi resiko
§         X2 + X3A + X3B 0,01 % dari populasi yang memenuhi resiko
§         X5 0,1 % dari populasi yang memenuhi resiko
§         XN 1 % dari populasi yang memenuhi resiko
§         Serum Vitamin A 10 mg / dl sebanyak 5 % dari populasi yang memenuhi resiko

3. Hal yang Harus Di Lakukan

Pada umumnya sehari-hari Vitamin A dapat dipenuhi pemberian diet yang mengandung telur, susu, mentega, hati, sayuran yang berupa daun atau berwarna kuning (wortel dan sebagainya) buah-buahan yang berwarna kuning (tomat, pepaya, dan sebagainya).

Pemberian Vitamin A dengan tujuan mengobati defisiensi vitamin A dan menambah persediaan Vitamin A dalam hepar, preparat yang dianjurkan adalah :

a.      Oral : oil – Based Solution Refind Pelmital atau asefat sebagai kapsul dengan / tanpa tambahan Vitamin E
b.      Infra maskuler : Water micsible refinol palmital

Pengobatan Xeroftalmia :

§         Setelah dibuat diagnosa
110 mg Refinol palmital atau 66 mg refinol asefat (200.000 SI) per oral, atau 55 mg refinol palmital (100.000 SI) intra vena
§         Hari berikutnya
110 mg refinol palmitat atau 66 refinol asefat (200.000 SI)
§         Sebelum di pulangkan / klinis memburuk / 2 – 4 minggu kemudian 110 mg refinol palmitat atau 66 mg refinol asetat (200.000 SI) per oral

Dalam pokok-pokok kegiatan program perbaikan gizi, distribusi kapsul Vitamin A diprioritaskan pada anak balita di daerah miskin dan atau kantung-kantung rawan KVA serta anak balita yang tinggal di daerah dengan angka mordibitas tinggi terutama, penderita campak dan diare serta ibu nifas

Dosis dan cara pemberiannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini
               
Kelompok sasaran
Dosis
Pemberian
 (X / tahun)
Keterangan
Anak balita
200.000 SI
2
Februari dan Agustus
Ibu nifas
200.000 SI
1




 B. KEKURANGAN VITAMIN C
1. Pengertian

Kekurangan vitamin C adalah suatu kondisi, dimana seseorang kekurangan vitamin C umumnya terdapat pada buah-buahan yaitu jeruk, belimbing dan sebagainya. Vitamin C diperlukan pada pembentukan zat kolagen oleh fibroblast hingga merupakan bagian dalam pembentukan zat intrasel. Keadaan kekurangan vitamin C akan mengganggu integritas dinding kapiler.
Vitamin C diperlukan juga pada proses pemetangan esitrosit dan pada pembentukan tulang dan dentin. Vitamin C mempunyai peranan penting pada respirasi jaringan .
Kekurangan vitamin C pertumbuhan anak terganggu dan timbul pendarahan kapiler dimana-mana, terutama didaerah periostium dekat tulang panjang.
Pada waktu anak dilahirkan persediaan vitamin C dalam tubuh cukup banyak, maka kejadian kekurangan vitamin C terjadi pada kebanyakan pada umur 6 sampai dengan 12 tahun, umur 1 tahun umumnya anak sudah dapat diet yang lebih berfariasi hingga angka kejadian menurun.
2. Gejala

1.      Cengang / mudah marah.
2.      Rasa nyeri pada tungkai bawah.
3.      Pseoduparalisis tungkai bawah, sedangkan tungkai atas jarang terserang.
4.      Pendarahan gusi.
5.      Sariawan.
6.      Bibir pecah-pecah.

Kelainan radiologis terdapat pada tulang-tulang yang sedang aktif tumbuh, seperti ujung sternum tulang rusuk, ujung distal femur, ujung proksimal humurus, kedua ujung tibia dan fibula, dan ujung distal radius dan ulna.
Gambaran radiologis menunjukkan adanya garis epifisis yang agak kabur dan tidak rata seperti biasa, osteoporosis ringan, pembengkakan pada ujung tulang panjang, terutama pada ujung bawah femur disebabkan oleh pendarahan subperios.
3. Penatalaksanaan


Pada umumnya kebutuhan sehari-hari vitamin C dapat dipenuhi dengan buah-buahan. Kekurangan vitamin C perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut:
1.      Pemberian makanan yang mengandung vitamin C.
2.      Cegah / atasi keseimbangan cairan dan pemberian cairan.
3.      Cegah / atasi rasa nyeri dan pemberian obat analgesik.
4.      Koreksi kadar vitamin C pada tubuh.
5.      Cegah / atasi BAB keras dengan pemberian serat.
6.      Terapiotik pemenuhan keseimbangan vitamin C.
C. KEKURANGAN VITAMIN D
1. Pengertian

Kekurangan vitamin D adalah suatu keadaan dimana seseorang kekurangan vitamin D, dimana vitamin D tersebut terdapat pada radiasi ersoterol secara artivisial dengan sinar ultra violet, contoh sinar matahari.
Apabila kekurangan itu terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul osteomalasia dan mengakibatkan penyakit rathitis dan kadang-kadang terani.
Kekurangan vitamin D timbul klasifikasi tulang yang tidak normal, disebabkan oleh rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh.

Beberapa zat yang berhubungan dengan aktivitas vitamin D   adalah :
1.      Vitamin  D2 yang dihasilkan oleh radiasi ersoterol secara artivisial dengan sinar ultra violet.
2.      Vitamin D3 yang dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia dengan komponen ultra violet pada sinar matahari dan juga terdapat pada sumber makanan hewani.

2. Gejala

1.      Tubuh terasa pegal.
2.      Lunaknya tulang.
3.      Demineralisasi umum pada rangka.
4.      Deformitas torax, tulang punggung, pelvis dan tulang-tulang panjang.

Penatalaksanaan biokimia
a.       Kadar kalsium
b.       Kadar fosfor rendah
c.       Kadar fosfarase meninggi
d.       Kadar 25 (OH) vitamin D dibawah 4 mg/ml.
3. Penatalaksanaan



Umumnya kebutuhan sehari-hari vitamin D dapat terpenuhi dengan sinar matahari. Beberapa tindakan pada pasien kekurangan vitamin D sebagai berikut :

1.      Atasi / cegah kerapuan tulang dengan pemberian kalsium.


2.      Atasi / cegah radiasi pada kulit dengan pemberian komponen ultra violet. Yaitu sinar matahari.


3.      Atasi / cegah dehidrasi dengan pemberian cairan.


4.      Koreksi kadar kalsium pada tulang.


5.      Cegah infeksi dengan cara pemberian antibiotik.


6.      Fasilitas tumbuh kejar yaitu pada masa pemulihan dibutuhkan berbagai pendekatan dan kebutuhan vitamin D dengan terapiotik.
D. GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN IODIUM
1. Pengertian

Gangguan akibat kuranganya Iodium (GAKI) adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kurang Iodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Dampak negatifnya dapat berupa pembesaran kelenjar gondok, hipoteroid, kegagalan reproduksi kematian anak dan hambatan sosial ekonomi.
Iodium merupakan mineral yang penting dalam pembentukan horman teroid, pada keadaan normal kebutuhan pada anak-anak adalah : 200 mg/hari sumber utama Iodium adalah dari makanan dan absorbsi paling banyak terjadi di usus halus.
2. Gejala Klinis dan tanda-tanda

Kretin endemik terdapat di daerah gondok endemik, kelainan terjadi waktu bayi masih dalam kandungan atau tidak lama setelah dilahirkan dan terdiri atas kerusakan pada syaraf pusat dan hipotiroidisme.
Secara klinis kerusakan syaraf pusat bermanifestasi dengan :
§         Retardasi mental
§         Gangguan pendengaran sampai bisu tuli
§         Gangguan neuromotor seperti : gangguan bicara, cara jalan yang aneh, dsb
§         Hipoteroid dengan gejala :
a.          Miksedema pada hipotiroidisme
b.         Tinggi badan kurang cebol (stunted gruwth) dan osifikasi
3. Hal-Hal yang Harus di Lakukan
Kegiatan pokok penanggulangan GAKI meliputi :
§         Garam konsumsi yang beredar diseluruh Indonesia harus dalam bentuk garam ber Iodium dengan kadar yang telah ditetapkan yaitu : 30 – 80 PPM
§         Untuk meningkatkan konsumsi garam ber Iodium, lakukan mobilisasi sosial dengan pendekatan pemasaran sosial
§         Berikan suplementasi kapsul larutan minyak ber Iodium untuk daerah endemik sedang dan berat pada semua penduduk pria usia 0 – 20 tahun dan semua penduduk wanita usia 0 – 35 tahun, dengan dosis tertera pada tabel dibawah ini
 
Kelompk sasaran
Umur (tahun)
Dosis pemberian minyak ber Iodium
kapsul
Bayi
< 1
100 mg
½
Anak Balita
1 – 5
200 mg
1
Wanita
6 – 3
400 mg
2
Wanita hamil
-
200 mg
1
Wanita menyusui
-
200 mg
1
Pria
6 – 20
400 mg
2


§         Kembangkan pertifikasi Iodium dan bahan makanan lainnya selain garam, serta tingkatkan kualitas bahan makanan sebagai sumber Iodium terutama bahan pangan dari laut. (Udang, ikan, cumi-cumi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar